Kompos Sebagai Alternatif Pemanfaatan Sampah Organik

Tanggal 21 Februari dicanangkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sampah menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat global seperti yang dilansir oleh National Geographic yang melaporkan masing-masing kota di dunia setidaknya menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar ton setiap tahun. Diperkirakan oleh Bank Dunia, pada tahun 2025, jumlah ini bertambah hingga 2,2 miliar ton.
Terkait persoalan sampah, Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan Indonesia akan bebas sampah pada tahun 2020, target tersebut tidak akan tercapai tanpa peran serta kesadaran dari setiap individu masyarakat Indonesia. Hari peduli sampah dijadikan momentum untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya prinsip 3R (reduce, reuse dan recycle) dalam pengelolaan sampah. Peran serta masyarakat dalam penanggulangan sampah dapat diwujudkan salah satunya dengan mengolah sampah organik yang dihasilkan oleh rumah tangga menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan menjadi pupuk untuk tanaman.
Kompos adalah pupuk yang terbuat dari sampah organik yang kaya akan unsur Karbon dan Nitrogen. Secara alami, sampah organik akan mengalami pembusukan dan peruraian oleh ratusan jenis mikroba (bakteri, jamur, ragi) dan berbagai jenis binatang kecil yang hidup di tanah. Proses alami inilah yang dimanfaatkan untuk mengelola sampah organik menjadi pupuk. Sampah basah (organik) adalah jenis sampah yang dapat diolah menjadi kompos yang terdiri atas bahan-bahan organik. Sifat sampah organik adalah tidak tahan lama dan cepat membusuk. Biasanya sampah jenis ini berasal dari makhluk hidup, contohnya sayur-sayuran, buah-buah yang membusuk, sisa nasi, daun, dan sebagainya. Sampah organik mudah diuraikan mikroorganisme tanah, hanya saja jenis sampah akan menimbulkan bau kurang sedap jika tidak dikelola dengan baik.
Proses pembuatan kompos yang paling sederhana dapat dibuat dalam skala rumah tangga dengan memanfaatkan sisa sayur-sayuran, buah-buah yang membusuk, sisa nasi, daun kering, dan sebagainya.

  1. Bahan-bahan:
    a. Sampah organik yang kaya Karbon umumnya berciri-ciri kering, kasar atau berserat dan berwarna
    coklat, misal daun dan rumput kering. Dibutuhkan pula sampah yang kaya akan Nitrogen yang
    mempunyai ciri berwarna hijau dan mengandung air, misal sayuran, buah-buahan dan bubuk teh dan
    kopi. Perbandingannya adalah 1:2 yang bertujuan untuk mempercepat proses pengomposan.
    b. Alat-alat berupa wadah yang berlubang-lubang untuk sirkulasi udara, jaring plastik, sabut kelapa/sekam
    kardus untuk alas wadah kompos.
  2. Cara pembuatan:
    a. Cacah sampah-sampah organik yang akan dijadikan adonan kompos;
    b. Masukkan ke dalam wadah yang telah diberi alas jaring plastik yang diisi sabut kelapa/sekam;
    c. Tambahkan bekatul atau dedak;
    d. Lapisi wadah keranjang dengan kardus untuk mengatur kelembapan dan menyerap kelebihan air
    sehinga kelebihan air pada adonan kompos tidak merembes;
    e. Diamkan adonan selama tiga minggu dan kompos siap dijadikan pupuk.
    Proses pengomposan yang benar akan membuat adonan kompos panas bila diraba atau keluar uap air jika diaduk. Apabila bahan kompos menjadi terlalu basah/berair (biasanya dibarengi bau busuk), jangan dijemur tetapi tambahkan serbuk gergaji. Kemudian aduk adonan sampai merata sampai ke bawah.
    (Ai Siti Halimah dan Dadang Suherman)

Sumber:

https://dlh.paserkab.go.id/detailpost/sejarah-hari-peduli-sampah-nasional

https://www.bulelengkab.go.id/detail/artikel/jenis-jenis-sampah-68

http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/inovasi/333-membuat-kompos-skala-rumah-tangga

Kompos Sebagai Alternatif Pemanfaatan Sampah Organik